Penjualan Tahu Tropodo Turun Tipis Usai Kasus Limbah Plastik Viral

 

Tropodo, Krian, Sidoarjo, Jawa Timur, 3 Januari 2026 — Pagi di Desa Tropodo dimulai dengan kegiatan yang menjadi kebiasaan masyarakat. Sejak fajar, para pengusaha tahu sudah menyalakan kompor dan memulai proses pembuatan tahu. Wewangi kedelai yang sedang direbus dan asap hitam dari kompor menjadi pemandangan yang biasa di sekitar pusat tahu tersebut. Namun, di balik rutinitas yang terlihat biasa ini, para penjual tahu mulai merasakan dampak perubahan. Sejak viralnya kasus penggunaan limbah plastik sebagai bahan bakar dalam produksi di media sosial, sebagian konsumen mulai kehilangan kepercayaan.

Bu Sulis, pedagang tofu yang telah menjalankan usaha selama sekitar 20 tahun di Tropodo, mengungkapkan bahwa penjualannya mengalami penurunan, meskipun tidak terlalu besar.

“Jika dikatakan sangat sepi, sebenarnya tidak, tetapi memang agak menurun. Kini, pembeli cenderung lebih banyak bertanya sebelum melakukan pembelian,” ujar Bu Sulis.

Menurut dia, sebelum berita tentang kasus itu meluas, tahu yang dijual hampir selalu ludes tanpa banyak pertanyaan. Sekarang, beberapa pembeli mulai menanyakan tentang sumber tahu dan cara pembuatannya, bahkan ada yang mengurangi jumlah yang dibeli. Namun, pelanggan yang sudah lama tetap datang. Situasi ini membuat penjualan tahu tetap berjalan, meskipun belum mencapai tingkat keramaian seperti sebelumnya.

“Secara perlahan mulai kembali normal, meskipun belum seperti sebelumnya,” tambahnya.

Mengenai masalah efek asap yang dihasilkan dari kegiatan produksi, Ibu Sulis menekankan bahwa sejauh ini tidak ada keluhan langsung yang diterima dari penduduk sekitar. Pernyataan ini juga diperkuat oleh Ibu Apit, seorang warga yang menetap di dekat tempat produksi tahu.

“Sejak dulu tidak ada isu mengenai asapnya. Penduduk juga tidak merasakan gangguan,” Ujar Bu Apit selaku warga sekitar.

Meskipun penduduk setempat tidak mengalami efek langsung, kepopuleran kasus ini membuat orang-orang di luar daerah Tropodo menjadi lebih curiga untuk membeli tahu. Keraguan ini selanjutnya berdampak pada penjualan tahu di pasar.

Secara keseluruhan, penjualan tahu di Tropodo setelah viral mengenai limbah plastik mengalami penurunan yang ringan, bukan penurunan yang drastis. Dampak paling signifikan dirasakan pada kepercayaan konsumen, sedangkan kegiatan masyarakat sekitar masih berlangsung normal. Bagi pedagang tahu di Tropodo, menjaga kepercayaan konsumen kini menjadi sesuatu yang sangat penting agar bisnis yang telah dijalani selama bertahun-tahun dapat tetap bertahan.

Komentar