PROSES PEMBUATAN TAHU

 

Proses Membuat Tahu – Tahu adalah salah satu bahan makanan yang sering digunakan. Tahu ini bisa diolah menjadi berbagai jenis masakan yang lezat, seperti tumis, sayur tahu, dan lainnya. Rasanya yang enak membuat tahu memiliki banyak penggemar. Seperti tempe, tahu juga dikenal sebagai makanan yang diakui oleh masyarakat. Makanan yang bahan bakunya dari kedelai ini memiliki rasa khas dan juga enak. Harganya tergolong ekonomis dan bisa dijangkau oleh semua kalangan. Namun, tahukah Anda bagaimana cara membuat tahu? Apa manfaat yang terkandung di dalamnya?

A.    Pengertian Tahu

Tahu adalah makanan tradisional yang terbuat dari kedelai. Tahu kaya akan protein, kalsium, zat besi, rendah sodium, kolesterol, dan kalori. Selain itu, tahu juga mempunyai keunggulan yaitu kadar lemak jenuh yang rendah.

B.    Cara Membuat Tahu

Tahu dibuat dari endapan perasan biji kedelai yang sudah mengalami koagulasi, lalu diambil sarinya. Seperti tempe, tetapi bedanya dalam pembuatan tahu tidak ada proses fermentasi. Berikut ini adalah bahan, alat, serta proses atau cara membuat tahu yang perlu kamu ketahui, antara lain:

1.     Bahan Pembuatan Tahu

Terdapat beberapa bahan-bahan yang dibutuhkan dalam proses pembuatan tahu, diantaranya sebagai berikut:

a. Kacang kedelai

b. 1 gram batu tahu atau kalsium sulfat atau CaSO4 atau 3 ml asam cuka

c. Air secukupnya

2. Alat-Alat Pembuatan Tahu

Dalam proses pembuatan tahu diperlukan beberapa alat yang dapat menunjang keberhasilan pembuatan tahu, diantaranya sebagai berikut:

a. Bak atau tong besar atau baskom

b. Pisau

c. Kain tipis

d. Saringan

e. Loyang guna mencetak tahu

f. Tampah atau nyiru

g. Tungku atau kompor

h. Alat penghancur atau mesin giling

i. Kain pengaduk

j. Cetakan tahu

2.     Cara Pembuatan Tahu

Secara garis besar cara pembuatan tahu dimulai dengan cara pemilihan bahan baku kedelai, perendaman, penggilingan, pemasakan, penyaringan, penggumpalan, hingga pencetakan. Guna mengetahui pembahasan secara lengkap, mari perhatikan pembahasan di bawah ini.

a. Perendaman

Cara pembuatan tahu yang pertama, yaitu perendaman tahu. Proses perendaman ini dilakukan guna memperlunak struktur sel kedelai. Sehingga dapat mengurangi energi yang dibutuhkan selama proses penggilingan. Selain itu, struktur sel yang lunak tersebut juga mempermudah pengekstrakan sari dari ampas.

Perendaman ini dilakukan dengan waktu sekitar 3 hingga 4 jam untuk kedelai impor. Sementara itu, untuk kedelai lokal diperlukan waktu selama 4 hingga 5 jam.

b. Penggilingan

Cara pembuatan tahu yang kedua, yaitu penggilingan. Pada tahapan ini biji kedelai akan digiling dengan tujuan supaya dapat memperkecil partikel kedelai sehingga nantinya dapat secara mudah dilakukan pengekstrasi protein ke dalam susu kedelai. Selama proses penggilingan ini diperlukannya penambahan air dengan debit 1,8 liter tiap menitnya.

 

c. Pemasakan

Cara pembuatan tahu berikutnya, yaitu pemasakan bubur kedelai yang didapat dari hasil penggilingan. Kemudian, dimasukan ke dalam bak masak dengan menambahkan air sehingga bubur kedelai menjadi encer.

Proses pemasakan bubur kedelai akan berpengaruh pada kualitas tahu yang akan dihasilkan. Jika suhu wajan terlalu tinggi, maka endapan bubur akan mengerak. Kerak tersebut akan meninggalkan bau sangit dan bau tersebut akan terbawa sampai proses pencetakan. Oleh karena itu, proses pemasakan ini perlu memperhatikan suhu wajan dan jangan sampai menimbulkan kerak serta bau sangit.

d. Penyaringan

Cara pembuatan tahu selanjutnya, yaitu penyaringan. Pada tahap ini bubur kedelai yang sudah dimasak nantinya akan disaring untuk mendapatkan sari kedelai. Proses penyaringan ini bisa dilakukan dengan cara meletakkan bubur kedelai diatas kain belacu maupun kain sifon yang telah diletakan diatas bak penampung. Kemudian, bubur kedelai ini diperas guna mendapatkan sari kedelainya.

e. Penggumpalan

Cara pembuatan tahu berikutnya, yaitu penggumpalan. Proses penggumpalan adalah proses menggumpalkan sari kedelai. Sejumlah pengrajin tahu menggumpalkan sari kedelai dengan cara menambahkan bahan asam yang ditanamkan bibit. Dimana bibit adalah bahan asam sisa proses penggumpalan sehari sebelumnya.

f. Pembungkusan dan Pencetakan

Cara pembuatan tahu yang terakhir, yaitu pembungkusan dan pencetakan. Pada tahapan ini bubur kedelai yang telah menggumpal, nantinya dicetak menjadi  tahu. Pada tahapan ini dapat dilakukan dengan memakai teknik cetak bungkus dengan bantuan alat berupa pres yang memiliki cetakan.  Tahu yang akan dicetak ini terlebih dahulu dibungkus dengan menggunakan kain belacu yang dipotong menjadi bentuk segiempat kecil-kecil.

 

Selain itu ada hal yang berbeda pada Pabrik tahu di Tropodo Sidoarjo, dikarenakan bahan bakarnya sendiri tidak menggunakan kayu atau yang lain. Tetapi menggunakan limbah sampah plastik untuk proses nya sendiri.

“disini semua pabrik menggunakan bahan bakar plastik mbak, dikarenakan lebih murah untuk anggaran nya dan pas di goreng pun lebih crispy” ujar salah satu pegawai di pabrik tahu. Karna memang harga kayu dibanding dengan harga plastik itu sangat jauh berbeda, untuk selisih nya bisa sampai 50%. Tetapi mereka benar-benar tidak merasakan dampak dari asap hitam yang keluar dari cerobong pabrik hasil dari pembakaran plastik itu sendiri.

Pabrik tahu Tropodo memakai 40% bahan bakar dari sampah plastik. Sampah plastik ini digunakan sebagai bahan bakar utama dalam proses membuat tahu di pabrik Desa Tropodo. Hal ini karena harga sampah plastik lebih murah dibandingkan kayu, sehingga produksi bisa lebih untung. Komposisi sampah plastik yang digunakan terdiri dari 40% sampah plastik impor, 20% karet, sol sepatu, styrofoam, 10% plastik saset, 20% kayu, dan 20% batok kelapa. Sampah plastik impor ini berasal dari limbah pabrik daur ulang kertas di Mojokerto dan Pasuruan. Dari sampah plastik yang digunakan sebagai bahan bakar, diketahui berasal dari Amerika Serikat, Korea Selatan, Prancis, Italia, Australia, dan Belanda. Penggunaan sampah plastik impor ini sebelumnya sudah dilarang oleh pemerintah sejak tahun 2019. Namun hingga tahun 2025 hal ini masih dilakukan sebagai bahan bakar produksi tahu.

Proses pemproduksian tahu di pabrik Sidoarjo, khususnya di Tropodo, menggunakan plastik sebagai bahan bakar utama untuk menggoreng tahu agar menekan biaya produksi.

 Meskipun sudah dilarang karena menghasilkan polusi berbahaya seperti dioksin yang membahayakan kesehatan dan lingkungan, sampah plastik bekas (sampah daur ulang) sering dicampur dengan kayu dan bahan lainnya lalu dibakar di tungku penggorengan tahu, menyebabkan asap beracun yang mencemari udara dan makanan. Praktik ini tetap berlangsung meski ada larangan karena alasan efisiensi biaya, meski dampaknya jangka panjang terhadap kesehatan dan lingkungan sangat serius.

 

Proses yang Bermasalah:

1. Pengumpulan Sampah: Sampah plastik (seringkali dari luar negeri seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, dll.), karet, styrofoam, dan limbah lainnya dikumpulkan oleh para pengepul.

2. Pembakaran: Limbah tersebut dibakar di dalam tungku besar sebagai bahan bakar untuk memanaskan minyak goreng tahu.

3. Penggorengan Tahu: Tahu yang sudah dibentuk kemudian digoreng dalam minyak panas berasal dari hasil pembakaran sampah tersebut.

Dampak Penggunaan Plastik:

- Polusi udara: Pembakaran sampah plastik melepaskan gas beracun seperti dioksin dan furan.

- Kontaminasi makanan: Zat beracun menempel pada tahu, sehingga konsumen tanpa sadar memakannya.

- Risiko kesehatan: Paparan dioksin jangka panjang bisa menyebabkan gangguan hormon, masalah reproduksi, penurunan daya tahan tubuh, dan kanker.

- Pencemaran lingkungan: Limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun) mencemari tanah dan air sekitar area pabrik.

Tantangan dan Kondisi Saat Ini:

- Pemerintah Kota Sidoarjo telah menerapkan larangan, tetapi praktik ini masih berlangsung karena alasan ekonomi.

- Kasus ini sering menjadi sorotan media internasional karena dampak kesehatan dan lingkungan yang serius.

- Upaya penegakan aturan dan penertiban terus dilakukan, tetapi menangani masalah ini masih sulit karena ketergantungan pada biaya produksi yang murah.

Komentar