Krian, Sidoarjo — Dalam era yang sangat cepat seperti saat ini, tidak banyak individu yang tetap berkomitmen pada pekerjaan tradisional. Namun, Ibu Leni, seorang perajin tempe dari Desa Sedengan Mijen, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, menunjukkan hal yang berbeda. Ia terus melanjutkan usaha tradisional keluarganya dengan membuat dan menjual tempe di Pasar Temu yang terletak di Kecamatan Prambon.
Setiap hari, sekitar pukul dua pagi, Ibu Leni sudah memulai aktivitasnya. Ia mempersiapkan tempe yang telah diproduksinya dan berangkat ke pasar untuk menjual produknya dalam kondisi segar. Mungkin terlihat sederhana, tetapi pekerjaan ini memerlukan ketelitian dan semangat yang tinggi "Jika tidak bangun di pagi hari, tempe bisa jadi rusak sebelum tiba di pasar. Maka dari itu, saya harus selalu siaga," Ujar Ibu Leni sambil tersenyum."
Ibu Leni mengungkapkan bahwa bisnis tempe ini telah dilakukannya sejak lama dan menjadi sumber mata pencaharian utama bagi keluarganya. Meskipun harga kedelai sering fluktuatif dan persaingan di pasar semakin ketat, dia tetap berusaha untuk bertahan. Bagi Ibu Leni, yang terpenting adalah kejujuran dan menjaga kepercayaan pelanggan.
Di tengah banyak orang yang beralih ke bisnis modern, Ibu Leni justru berusaha menjaga tradisi yang diwariskan oleh keluarganya. Ia berharap usaha kecil semacam ini dapat terus bertahan di tengah perubahan zaman. Kisahnya merupakan contoh nyata bahwa kerja keras dan ketekunan masih merupakan kunci untuk bertahan di era sekarang.

Komentar
Posting Komentar